terima sajalah

seekor serangga pernah datang padaku…

dia bercerita betapa indahnya menjadi burung

lalu aku bertanya… apa yang kau impikan dengan menjadi burung?

lalu dia menjawab, dengan getir, setidaknya aku tidak akan memangsa bangsaku sendiri, serangga…

lalu kukatakan kepadanya… bila kau menjadi burung dan tidak memakan serangga, lantas apa yang akan kau makan. bukankah hanya  kematian yang akan datang kepadamu…

serangga itu tidak menjawab…

kuteruskan lagi perkataanku… kodratmu adalah sebagai serangga. mangsa burung-burung liar. bahwa kau harus terus bertahan hidup itu harus…tetapi bila kau menjadi burung, siapa yang akan membantu bunga mekar dan menari.

ya tetap saja bunga yang dipuji dan aku tetap menjadi santapan burung…kata serangga

memang…tapi pernahkah kau mengintip untuk sekedar melihat senyuman wanita yang kusayangi ketika kuberi sekuntum bunga… lihatlah raut bahagianya anak-anak kecil yang bermain ditaman bunga sehingga mereka merasa ditengah surga…bahwa kau yang membuat padang menjadi menjadi surga anak-anak itu betul. bahwa kau terlupakan itu benar. bahwa kau tetap menjadi mangsa burung-burung, itupun tepat. dan ditengah bahaya pertaruhan nyawa kau bisa membahagiakan bangsa lain itulah peranmu…

aku bingung kata apalagi yang harus aku berikan kepadanya agar dia bisa terhibur…

tiba-tiba serangga pergi tanpa aku lihat raut wajahnya…sehingga aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini…tapi aku berharap dia tetap menjadi serangga. sehingga aku bisa terus memberikan bunga kepadanya…egois memang aku…ya itu kodrat, aku tidak berani salahkan Tuhan. nanti di hukumnya pula aku………

Leave a Reply