sudah kau sampaikan?
sudah…
lalu bagaimana hasilnya?
hasilnya aku pulang kena tilang
bukan itu maksudku, bagaimana hasil yang kau sampaikan?
sudahlah biarkan aku istirahat dulu melemaskan otot, meredakan emosi, jantung ini masih berdegub seperti kereta api, tak ada habisnya dia lewat
ah kau, apa susahnya menyebutkan hasil. berhasil atau tidak. selesai
masalahnya tidak sesederhana itu. tidak seperti orang suit menag atau kalah. lagipula apa untungnya kalau aku berhasil atau sebaliknya.
merajuk? atau kau masih berharap datang keajaiban seperti Musa membelah laut?
suka kaulah. yang pasti tidak ada keajaiban. yang ada cuma kehendak Allah. cuma itu. dan aku bukan Tuhan. aku cuma manusia.
hei menyalahkan Tuhan rupanya
manalah aku berani. menuduh makkupun aku tak berani apalagi Tuhan. aku cuma tidak mengerti mengapa manusia diberi akal, nafsu, perasaan. sedangkan segala sesuatu tidak ada yang luput dari kehendak-Nya, tidak lepas dari sifatnya yang maha tahu.
tapi bukankah ada hal yang bisa manusia rubah dengan kemauan, kerja keras dan akalnya? apa kau tidak percaya qadha dan qodar?
itulah. aku beriman atas itu. tapi menurutku, satu saja sifat Tuhan yang bisa ditandingi oleh akal manusia maka tidak pantaslah dia jadi Tuhan. Allah yang aku yakini adalah Tuhanku pasti sudah mengetahui apa yang sudah, sedang dan akan terjadi. titik…
lalu untuk apa manusia diciptakan?
mana kutahu. malaikatpun dimarahi ketika bertanya itu..
eh kenapa kita bicara yang melenceng begini, padahal aku cuma bertanya bagaimana hasilnya?
sudah kubilang tidak sesederhana itu. belum ada hasil. karena ini belum selesai, aku belum mati berarti masih akan ada cerita. sudahlah aku capek ingin tidur…
ah kau susah kali bilang berhasil atau tidak. suka kaulah..