Kecelakaan pelayaran nasional seolah tidak ada habis-habisnya. Masih segar dalam ingatan kita kecelakaan yang cukup tragis, tenggelamnya kapal motor penumpang KMP Tampomas II di sekitar kepulauan Masalembo, Laut Jawa, tanggal 27 Januari 1981 dan merenggut ratusan nyawa penumpangnya. Saat itu, sekitar 1054 penumpang yang terdaftar serta 82 kru kapal diberangkatkan dari Jakarta menuju Sulawesi. Di tengah badai laut di malam hari, tanggal 25 Januari 1981, beberapa bagian mesin mengalami kebocoran bahan bakar sehingga menimbulkan kebakaran. Api yang menyambar cepat tidak bisa dipadamkan hanya dengan tabung pemadam kebakaran portable. Selama dua jam tenaga utama mati. Digambarkan saat itu, banyak penumpang Tampomas II yang terjun ke laut karena tidak tahan terpanggang api. Pagi hari 27 Januari terjadi ledakan dan membuat air laut masuk ke ruang mesin, yang membuat kapal menjadi miring 45° dan tenggelam. Di situ Kapten Rifai, Nahkoda Tampomas II, yang meninggal akibat tenggelamnya kapal buatan Jepang tahun 1956 itu dianugerahi gelar pahlawan. Sebagai nahkoda, Kapten Rifai adalah orang yang paling akhir keluar dari kapal. Konon, Kapten Rifai masih terlihat diatas kapal dan berpegangan pada gagang jendela saat kapal masuk ke dalam laut.
Dua dekade setelahnya, Kapal Motor Penumpang (KMP) Senopati Nusantara yang mengangkut 542 orang dari Pelabuhan Kumai, Kalimantan Tengah, Jumat (29/12), dilaporkan tenggelam di sebelah tenggara Pulau Mandalika, Jepara, sekitar pukul 24.00 WIB. Ratusan orang dilaporkan hilang. Pencarian korban sempat terganggu karena ombak di lokasi kejadian cukup tinggi. Kontak terakhir yang dilakukan KMP Senopati sekitar pukul 23.07 WIB dengan stasiun radio pantai di Semarang. Isi kontak tersebut mengabarkan bahwa terjadi cuaca buruk dan mereka akan berlindung di Pulau Mandalika, 24 mil dari Pelabuhan Semarang.
26 tahun setelah kecelakaan Tampomas II, KM Levina 1 pun mengalami kejadian serupa, terbakar pada Kamis (22/2) lalu sekitar pukul 05.30 WIB, sesaat setelah meninggalkan pelabuhan Tanjung Priok untuk menuju ke Pangkalan Balam, Bangka. Hingga proses pencarian korban Levina I dihentikan, Kamis (1/3) lalu, menurut data penyidik, korban tewas sudah mencapai 50 orang, 300 orang selamat; termasuk awak kapal yang semuanya selamat, dan 11 lainnya dinyatakan hilang. Namun, menurut data manifes seperti yang dikutip di berbagai media, jumlah penumpang hanya 228 orang. Api diduga berasal dari truk bermuatan kimia yang ada di lambung kapal. Bagi dunia transportasi kita, ini musibah terburuk kedua tahun ini, setelah hilangnya pesawat Boeing 737-400 milik Adam Air yang diperkirakan jatuh di wilayah Sulawesi Tengah dalam penerbangan dari Surabaya ke Manado. Hingga kini, sebanyak 96 penumpang dan kru pesawat belum ditemukan.
Bencana membawa bencana
Awan mendung kembali menyelimuti wajah jurnalistik kita. Hari itu, Ahad (25/2) lalu, saat mentari mulai bersinar di rumah susun Klender Blok 44 lantai 2 RT. 002/ 01 No. 7, Kelurahan Malaka Jaya, Jakarta Timur, seorang bapak berpesan kepada putranya yang masih berumur 13 tahun agar tidak main sepeda hingga larut malam. “Soalnya, semalam saya main sepeda sampai jam 10,” cetus bocah bernama Ivan Fausta Ramadhan itu saat ditemui Kamis (1/3) lalu. Tak nyana, itu ternyata pesan terakhir bapak Ivan yang seorang juru kamera SCTV, Mochammad Guntur Syaifullah (46).
Siang harinya, sekitar pukul 11.30 WIB, Guntur bersama reporter Agus Faisal Karim serta rekannya bergabung dengan 9 wartawan lainnya dari Metro TV (1), Lativi (1), antv (2), RCTI (2 orang), dan Indosiar (2), dan Radio Elshinta (1), di Pelabuhan Tanjungpriok, untuk berangkat menuju bangkai kapal Levina 1 yang terparkir sementara di perairan Muara Gembong, perbatasan Bekasi-Karawang, Jawa Barat, setelah ditarik dari Kepulauan Seribu. Mereka tidak berangkat sendiri, melainkan bersama 14 tim investigator; 10 orang dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) dan 4 orang dari Komisi Nasional keselamatan Transportasi (KNKT); serta tujuh orang tim Direktorat Polair Polda metro Jaya. Rombongan berangkat menggunakan tiga speed boat dengan diselimuti awan cerah.
Setibanya di bangkai Levina 1, mereka tidak langsung masuk berbondong-bondong. Ironisnya, meski dibekali pelampung (live vest), tidak ada satu pun wartawan yang mengenakan. Awalnya, kondisi bangkai masih tenang. Wartawan pun melakukan tugas peliputan, termasuk mewawancarai pihak puslabfor (seperti terekam dalam kamera salah satu stasiun). Namun, tiba-tiba kapal semakin miring. Air laut naik dengan cepat. Hanya dalam hitungan kurang dari lima menit, kapal terbalik, sehingga menimbulkan pusaran air yang hebat. Mereka yang di kapal itu, mencari selamat sendiri-sendiri, tanpa memedulikan yang lainnya. Dalam suasana kalut seperti itu, Guntur tetap memegangi kameranya yang berbobot sekitar 20 kg. Agus Faisal terpisah dengan Guntur sejak naik kapal tersebut. “Guntur ada di belakang saya. Guntur terus berteriak minta tolong karena tak bisa berenang,” kata Gusti Eka Sucahya dari Indosiar. “Tadinya Guntur sempat memegangi pinggang saya. tapi, pas air mulai masuk ke lambung kapal, pegangan Guntur terlepas,” sambungnya mengenang.
Sebanyak 30 orang berhasil diselamatkan oleh speed boat, termasuk juru kamera Lativi, Suherman, yang akhirnya mengembuskan nafas terakhir dalam perjalanan ke Tanjungpriok akibat lukanya yang parah. Sedangkan tiga lainnya, Guntur yang tak bisa berenang dan dua anggota Puslabfor, AKBP Langgeng Widodo dan Kompol Widiantoro, tertelan pusaran air. Dalam penantian yang tak pasti, keluarga Guntur akhirnya mendapat kabar, jenazah Guntur yang telah mengabdi bersama SCTV selama 11 tahun itu ditemukan oleh dua kru Global TV serta nelayan setempat, di sebuah pantai, sekitar 2 km dari lokasi karamnya KM Levina I. Begitu ditemukan, salah seorang kru Global TV menghubungi pihak SCTV. Sontak saja, seluruh redaksi Liputan 6 SCTV berduka. Sebelum dimakamkan di TPU Pondok Kelapa, Durensawit, Jakarta Timur, Rabu (28/2) lalu, jenazah disemayamkan di kantor SCTV di kawasan Gatot Subroto, Jakarta.
Istri Guntur, Siti Maemunah, tak kuasa menahan ketika melepas kepergian suaminya ke tempat peristirahtan terakhir. Ia seolah tak percaya akan ditinggal suami yang telah memberinya tiga anak, Deviana Pratami Putri (14), Ivan Ramadhan (13), dan Tistania P Salsabila (7). Ivan tak menyangka ayahnya akan meninggal dengan cara seperti itu. Ivan menyesal, selama hidupnya tidak begitu dekat sang ayah. Maka itu, kelak bila sudah besar, Ivan dapat meneruskan profesi ayahnya sebagai juru kamera. “Saya ingin jadi kameraman,” sebut Ivan sambil terisak nangis. “Mudah-mudahan kami bisa tabah,” sergah Siti Maimunah singkat.
Menurut Pemimpin Redaksi Liputan 6 SCTV, Rosiana Silalahi, yang ditemui usai pemakaman, komitmen almarhum Guntur terhadap pekerjaan tak diragukan lagi. “Tetapi pesan itu tidak berhenti sampai di situ saja. Ada amanat yang juga ia tinggalkan bagi kita semua pekerja televisi bahwa pekerjaan itu penting, tapi kehidupan dan keselamatan itu jauh lebih penting lagi,” kata Rosiana lirih. Lebih lanjut Rosiana menyatakan, cukup mengenal sosok Guntur yang pendiam, tapi seorang pekerja keras. “Justru dengan diam, dia memberikan pesan moral yang luar biasa,” sebutnya. Senada dengan Rosiana, presenter Liputan 6 SCTV, Bayu Sutiono, juga mengatakan, rasa salutnya yang besar terhadap dedikasi almarhum Guntur terhadap pekerjaannya. “Dia termasuk tipe pekerja yang rapi, sabar, dan tekun. Bahkan dia mencatat setiap jam kerja dia di lembar buku harian,” terang Bayu dengan mata berkaca-kaca.
Atas jasa-jasa Guntur, SCTV akan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya. “Penghargaan akan diberikan kepada keluarganya, termasuk memberikan beasiswa kepada anak-anak almarhum sampai mereka menyelesaikan sekolah,” kata Rosiana yang masih tak habis pikir dengan tindakan Guntur yang tetap mempertahankan kameranya ketimbang hidupnya ketika mau hendak menjemput.. “Apakah itu senilai nyawa?” sambung Rosiana. Setelah Rosiana melihat apa yang sudah dikerjakan Guntur dalam diamnya selama ini, ia baru mengerti. “Dia mengumpulkan seluruh lembar atau form peminjaman barang, lalu dia simpan itu dalam sebuah folder yang begitu rapi. Dalam diamnya dan sebelum maut menjempunya, dia telah memegang nilai yang dia anut, bahwa apa yang ada di tangannya akan diambil dengan baik dan dikembalikan dengan baik,” ungkap Rosiana panjang lebar. Bagi Rosiana, itu sebuah bentuk pertanggungjawaban yang tak tergantikan dengan apa pun.
Suherman, Rencana Menikahnya Tinggal Rencana
Minggu (25/2) lalu, suasana duka menyelimuti rumah alm. Suherman di Jalan Bawang, Jakarta Utara. Terlebih saat rekan-rekan alm. Suherman, datang melayat. Ucapan belasungkawa rekan seprofesi Suherman tersebut tidak henti-hentinya mengalir sehingga menambah suasana duka dan haru. Keesokannya, Jenazah Suherman dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Budi Darma, Cilincing, Jakarta Utara.
Suherman, pria yang lahir di Jakarta, 3 Mei 1976 lalu, meninggal dalam usia menjelang 31 tahun. Suherman adalah anak terakhir dari delapan bersaudara. Menurut pihak keluarga, kesehariannya, Suherman adalah sosok yang pendiam. Sebagai wartawan yang dituntut selalu siap dalam waktu 24 jam, Suherman jarang berkumpul dengan teman-teman di rumahnya. Dalam waktu tiga bulan ke depan, Suherman berencana menikah dengan wanita pilihannya.
Sylvester Keda, Penanggung Jawab Program News Lativi menjelaskan, Lativi menerima kabar tentang musibah tersebut pukul 14.30 WIB dari Taufan, Reporter Lativi yang selamat dari musibah itu. “Pada waktu laporan kami terima, Taufan mengabarkan Suherman dalam keadaan kritis akibat tenggelam di perairan Muara Gembong. 15 menit kemudian, kami menerima kabar kalau Suherman telah meninggal dunia,” papar Keda. Saat itu Suherman sempat diberi bantuan pernafasan berupa pompa dada oleh petugas KNKT. Namun karena luka yang diderita Suherman cukup dalam, nyawanya tidak tertolong lagi.
Menurut Keda, pria yang sempat magang selama 1 tahun, Sebelum menjadi karyawan di Lativi pada Desember 2004 ini adalah salah satu kameramen andalan Lativi. Sudah sewajarnya bila Lativi merasa sangat kehilangan orang terbaiknya. “Suherman adalah salah satu kameramen terbaik yang pernah kami miliki. Ia memiliki keuletan, ketekunan dalam bekerja , disiplin dan bertanggung jawab,” ujar Keda. Lativi juga memberikan bantuan kepada keluarga Suherman. “Mulai dari pengurusan Jenasah di RS PORT Medical Center sampai pemakaman kami yang urus. Selain itu Lativi telah memberikan santunan sesuai hak-haknya sebagai karyawan serta santunan dari Jamsostek,” terang Keda.
kejadian ini meninggalkan luka yang mendalam bagi wartawan yang lainnya. Namun tidak
sampai menjadikan trauma yang berkelanjutan. “Kami akan tetap memberikan penugasan
kemanapun sepanjang dipandang perlu untuk diliput,” ujar Eko Agung, Korlip News Lativi.