entahlah

April 13th, 2007 by buatmaru

memang gw bukan pria yang patut lo cintai

bukan juga pria yang ingin lo cintai

oleh karena itu semua kasih gw hanya  seperti benteng pasir dipinggir pantai…

terhempas, terseret dan kembali ke dasar

sampai kapan? entahlah…

sampai gw lelah mungkin

atau sampai gw bisa membenci cinta dan mengatakan tidak buat lo…

bisa? entahlah…

Musibah KM Levina I, Menguak Luka Tampomas II

March 3rd, 2007 by buatmaru

Kecelakaan pelayaran nasional seolah tidak ada habis-habisnya. Masih segar dalam ingatan kita kecelakaan yang cukup tragis, tenggelamnya kapal motor penumpang KMP Tampomas II di sekitar kepulauan Masalembo, Laut Jawa, tanggal 27 Januari 1981 dan merenggut ratusan nyawa penumpangnya. Saat itu, sekitar 1054 penumpang yang terdaftar serta 82 kru kapal diberangkatkan dari Jakarta menuju Sulawesi. Di tengah badai laut di malam hari, tanggal 25 Januari 1981, beberapa bagian mesin mengalami kebocoran bahan bakar sehingga menimbulkan kebakaran. Api yang menyambar cepat tidak bisa dipadamkan hanya dengan tabung pemadam kebakaran portable. Selama dua jam tenaga utama mati. Digambarkan saat itu, banyak penumpang Tampomas II yang terjun ke laut karena tidak tahan terpanggang api. Pagi hari 27 Januari terjadi ledakan dan membuat air laut masuk ke ruang mesin, yang membuat kapal menjadi miring 45° dan tenggelam. Di situ Kapten Rifai, Nahkoda Tampomas II, yang meninggal akibat tenggelamnya kapal buatan Jepang tahun 1956 itu dianugerahi gelar pahlawan. Sebagai nahkoda, Kapten Rifai adalah orang yang paling akhir keluar dari kapal. Konon, Kapten Rifai masih terlihat diatas kapal dan berpegangan pada gagang jendela saat kapal masuk ke dalam laut.

Dua dekade setelahnya, Kapal Motor Penumpang (KMP) Senopati Nusantara yang mengangkut 542 orang dari Pelabuhan Kumai, Kalimantan Tengah, Jumat (29/12), dilaporkan tenggelam di sebelah tenggara Pulau Mandalika, Jepara, sekitar pukul 24.00 WIB. Ratusan orang dilaporkan hilang. Pencarian korban sempat terganggu karena ombak di lokasi kejadian cukup tinggi. Kontak terakhir yang dilakukan KMP Senopati sekitar pukul 23.07 WIB dengan stasiun radio pantai di Semarang. Isi kontak tersebut mengabarkan bahwa terjadi cuaca buruk dan mereka akan berlindung di Pulau Mandalika, 24 mil dari Pelabuhan Semarang.

26 tahun setelah kecelakaan Tampomas II, KM Levina 1 pun mengalami kejadian serupa, terbakar pada Kamis (22/2) lalu sekitar pukul 05.30 WIB, sesaat setelah meninggalkan pelabuhan Tanjung Priok untuk menuju ke Pangkalan Balam, Bangka. Hingga proses pencarian korban Levina I dihentikan, Kamis (1/3) lalu, menurut data penyidik, korban tewas sudah mencapai 50 orang, 300 orang selamat; termasuk awak kapal yang semuanya selamat, dan 11 lainnya dinyatakan hilang. Namun, menurut data manifes seperti yang dikutip di berbagai media, jumlah penumpang hanya 228 orang. Api diduga berasal dari truk bermuatan kimia yang ada di lambung kapal. Bagi dunia transportasi kita, ini musibah terburuk kedua tahun ini, setelah hilangnya pesawat Boeing 737-400 milik Adam Air yang diperkirakan jatuh di wilayah Sulawesi Tengah dalam penerbangan dari Surabaya ke Manado. Hingga kini, sebanyak 96 penumpang dan kru pesawat belum ditemukan.

Bencana membawa bencana

Awan mendung kembali menyelimuti wajah jurnalistik kita. Hari itu, Ahad (25/2) lalu, saat mentari mulai bersinar di rumah susun Klender Blok 44 lantai 2 RT. 002/ 01 No. 7, Kelurahan Malaka Jaya, Jakarta Timur, seorang bapak berpesan kepada putranya yang masih berumur 13 tahun agar tidak main sepeda hingga larut malam. “Soalnya, semalam saya main sepeda sampai jam 10,” cetus bocah bernama Ivan Fausta Ramadhan itu saat ditemui Kamis (1/3) lalu. Tak nyana, itu ternyata pesan terakhir bapak Ivan yang seorang juru kamera SCTV, Mochammad Guntur Syaifullah (46).

Siang harinya, sekitar pukul 11.30 WIB, Guntur bersama reporter Agus Faisal Karim serta rekannya bergabung dengan 9 wartawan lainnya dari Metro TV (1), Lativi (1), antv (2), RCTI (2 orang), dan Indosiar (2), dan Radio Elshinta (1), di Pelabuhan Tanjungpriok, untuk berangkat menuju bangkai kapal Levina 1 yang terparkir sementara di perairan Muara Gembong, perbatasan Bekasi-Karawang, Jawa Barat, setelah ditarik dari Kepulauan Seribu. Mereka tidak berangkat sendiri, melainkan bersama 14 tim investigator; 10 orang dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) dan 4 orang dari Komisi Nasional keselamatan Transportasi (KNKT); serta tujuh orang tim Direktorat Polair Polda metro Jaya. Rombongan berangkat menggunakan tiga speed boat dengan diselimuti awan cerah.

Setibanya di bangkai Levina 1, mereka tidak langsung masuk berbondong-bondong. Ironisnya, meski dibekali pelampung (live vest), tidak ada satu pun wartawan yang mengenakan. Awalnya, kondisi bangkai masih tenang. Wartawan pun melakukan tugas peliputan, termasuk mewawancarai pihak puslabfor (seperti terekam dalam kamera salah satu stasiun). Namun, tiba-tiba kapal semakin miring. Air laut naik dengan cepat. Hanya dalam hitungan kurang dari lima menit, kapal terbalik, sehingga menimbulkan pusaran air yang hebat. Mereka yang di kapal itu, mencari selamat sendiri-sendiri, tanpa memedulikan yang lainnya. Dalam suasana kalut seperti itu, Guntur tetap memegangi kameranya yang berbobot sekitar 20 kg. Agus Faisal terpisah dengan Guntur sejak naik kapal tersebut. “Guntur ada di belakang saya. Guntur terus berteriak minta tolong karena tak bisa berenang,” kata Gusti Eka Sucahya dari Indosiar. “Tadinya Guntur sempat memegangi pinggang saya. tapi, pas air mulai masuk ke lambung kapal, pegangan Guntur terlepas,” sambungnya mengenang.

Sebanyak 30 orang berhasil diselamatkan oleh speed boat, termasuk juru kamera Lativi, Suherman, yang akhirnya mengembuskan nafas terakhir dalam perjalanan ke Tanjungpriok akibat lukanya yang parah. Sedangkan tiga lainnya, Guntur yang tak bisa berenang dan dua anggota Puslabfor, AKBP Langgeng Widodo dan Kompol Widiantoro, tertelan pusaran air. Dalam penantian yang tak pasti, keluarga Guntur akhirnya mendapat kabar, jenazah Guntur yang telah mengabdi bersama SCTV selama 11 tahun itu ditemukan oleh dua kru Global TV serta nelayan setempat, di sebuah pantai, sekitar 2 km dari lokasi karamnya KM Levina I. Begitu ditemukan, salah seorang kru Global TV menghubungi pihak SCTV. Sontak saja, seluruh redaksi Liputan 6 SCTV berduka. Sebelum dimakamkan di TPU Pondok Kelapa, Durensawit, Jakarta Timur, Rabu (28/2) lalu, jenazah disemayamkan di kantor SCTV di kawasan Gatot Subroto, Jakarta.

Istri Guntur, Siti Maemunah, tak kuasa menahan ketika melepas kepergian suaminya ke tempat peristirahtan terakhir. Ia seolah tak percaya akan ditinggal suami yang telah memberinya tiga anak, Deviana Pratami Putri (14), Ivan Ramadhan (13), dan Tistania P Salsabila (7). Ivan tak menyangka ayahnya akan meninggal dengan cara seperti itu. Ivan menyesal, selama hidupnya tidak begitu dekat sang ayah. Maka itu, kelak bila sudah besar, Ivan dapat meneruskan profesi ayahnya sebagai juru kamera. “Saya ingin jadi kameraman,” sebut Ivan sambil terisak nangis. “Mudah-mudahan kami bisa tabah,” sergah Siti Maimunah singkat.

Menurut Pemimpin Redaksi Liputan 6 SCTV, Rosiana Silalahi, yang ditemui usai pemakaman, komitmen almarhum Guntur terhadap pekerjaan tak diragukan lagi. “Tetapi pesan itu tidak berhenti sampai di situ saja. Ada amanat yang juga ia tinggalkan bagi kita semua pekerja televisi bahwa pekerjaan itu penting, tapi kehidupan dan keselamatan itu jauh lebih penting lagi,” kata Rosiana lirih. Lebih lanjut Rosiana menyatakan, cukup mengenal sosok Guntur yang pendiam, tapi seorang pekerja keras. “Justru dengan diam, dia memberikan pesan moral yang luar biasa,” sebutnya. Senada dengan Rosiana, presenter Liputan 6 SCTV, Bayu Sutiono, juga mengatakan, rasa salutnya yang besar terhadap dedikasi almarhum Guntur terhadap pekerjaannya. “Dia termasuk tipe pekerja yang rapi, sabar, dan tekun. Bahkan dia mencatat setiap jam kerja dia di lembar buku harian,” terang Bayu dengan mata berkaca-kaca.

Atas jasa-jasa Guntur, SCTV akan memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya. “Penghargaan akan diberikan kepada keluarganya, termasuk memberikan beasiswa kepada anak-anak almarhum sampai mereka menyelesaikan sekolah,” kata Rosiana yang masih tak habis pikir dengan tindakan Guntur yang tetap mempertahankan kameranya ketimbang hidupnya ketika mau hendak menjemput.. “Apakah itu senilai nyawa?” sambung Rosiana. Setelah Rosiana melihat apa yang sudah dikerjakan Guntur dalam diamnya selama ini, ia baru mengerti. “Dia mengumpulkan seluruh lembar atau form peminjaman barang, lalu dia simpan itu dalam sebuah folder yang begitu rapi. Dalam diamnya dan sebelum maut menjempunya, dia telah memegang nilai yang dia anut, bahwa apa yang ada di tangannya akan diambil dengan baik dan dikembalikan dengan baik,” ungkap Rosiana panjang lebar. Bagi Rosiana, itu sebuah bentuk pertanggungjawaban yang tak tergantikan dengan apa pun.

Suherman, Rencana Menikahnya Tinggal Rencana

Minggu (25/2) lalu, suasana duka menyelimuti rumah alm. Suherman di Jalan Bawang, Jakarta Utara. Terlebih saat rekan-rekan alm. Suherman, datang melayat. Ucapan belasungkawa rekan seprofesi Suherman tersebut tidak henti-hentinya mengalir sehingga menambah suasana duka dan haru. Keesokannya, Jenazah Suherman dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Budi Darma, Cilincing, Jakarta Utara.

Suherman, pria yang lahir di Jakarta, 3 Mei 1976 lalu, meninggal dalam usia menjelang 31 tahun. Suherman adalah anak terakhir dari delapan bersaudara. Menurut pihak keluarga, kesehariannya, Suherman adalah sosok yang pendiam. Sebagai wartawan yang dituntut selalu siap dalam waktu 24 jam, Suherman jarang berkumpul dengan teman-teman di rumahnya. Dalam waktu tiga bulan ke depan, Suherman berencana menikah dengan wanita pilihannya.

Sylvester Keda, Penanggung Jawab Program News Lativi menjelaskan, Lativi menerima kabar tentang musibah tersebut pukul 14.30 WIB dari Taufan, Reporter Lativi yang selamat dari musibah itu. “Pada waktu laporan kami terima, Taufan mengabarkan Suherman dalam keadaan kritis akibat tenggelam di perairan Muara Gembong. 15 menit kemudian, kami menerima kabar kalau Suherman telah meninggal dunia,” papar Keda. Saat itu Suherman sempat diberi bantuan pernafasan berupa pompa dada oleh petugas KNKT. Namun karena luka yang diderita Suherman cukup dalam, nyawanya tidak tertolong lagi.

Menurut Keda, pria yang sempat magang selama 1 tahun, Sebelum menjadi karyawan di Lativi pada Desember 2004 ini adalah salah satu kameramen andalan Lativi. Sudah sewajarnya bila Lativi merasa sangat kehilangan orang terbaiknya. “Suherman adalah salah satu kameramen terbaik yang pernah kami miliki. Ia memiliki keuletan, ketekunan dalam bekerja , disiplin dan bertanggung jawab,” ujar Keda. Lativi juga memberikan bantuan kepada keluarga Suherman. “Mulai dari pengurusan Jenasah di RS PORT Medical Center sampai pemakaman kami yang urus. Selain itu Lativi telah memberikan santunan sesuai hak-haknya sebagai karyawan serta santunan dari Jamsostek,” terang Keda.

kejadian ini meninggalkan luka yang mendalam bagi wartawan yang lainnya. Namun tidak 
sampai menjadikan trauma yang berkelanjutan. “Kami akan tetap memberikan penugasan 
kemanapun sepanjang dipandang perlu untuk diliput,” ujar Eko Agung, Korlip News Lativi.

6januari2007

February 6th, 2007 by buatmaru

jam 8 - 10 malem tadi latihan…..

sukur lagu gw mulai disukain….

anak2 ngarep banget band ini jalan terus dan bisa ngisi musik indonesia

sori bro gw emang kurang pede. tapi gw pasti berusaha mati-matian, moga kita besok di pagi hari kita bangun dengan posisi maju 1 langkah

buat buyon-asman n masteng thx dah ngasih spirit. meski cuma 2 orang itu bisa jadi energi yang besar buat gw. thx guys…..

buat lo…. lo terus jadi inspirasi gw walau lo ga nyadar tapi lo eksis disini, didunia khayal gw….meski selalu nyakitin kalo gw inget lo….

bukti nyata lo jadi inspirasi gw, ini lagu yang gw bikin karena lo…thx

Temani Aku

* memandang indahnya cinta

menembus ruang logika

tertahan dimensi rasa

khayalku ada dirimu

menikam putaran waktu

hempaskan diriku rapuh

** sesaatku terdiam melihat dirinya nyata

dan perlahan menghilang oooo….

reff

temani aku, di kesendirian pagi

menunggumu…

sadarkanku dia takkan kembali

kasihi aku, dengan lembut senyummu

melayangku…

kurengkuh lembut hatimu

tatapmu luaskan asa

sejukkan ruang yang hampa

pedihku terbuang lupa

khayalku ada dirimu

menikam putaran waktu

hempaskan diriku rapuh

back to **, reff

(mampang, 28 januari 2007)

LEBIH BAIK JANGAN BACA….

February 6th, 2007 by buatmaru

kenapa orang yang bersalah atau dianggap bersalah (MENURUT LO) selalu salah

jijik sih jijik tapi ga segitunya kaliiiii lo mandang gw

gw juga manusia, bukan tai

tai aja kalo bisa protes ga mau takdirnya dijauhin

AAANNNNNJJJJIIING loooooooo…….

mungkin lo ngerasa manusia yang paling hebat, boleh aja coi….

tapi kalo lo belum bisa ngehargain orang, ga usah nyebut diri lo manusia, apalagi hebat…… BANGSAT LO

sori yang kebetulan baca blog gw mungkin tulisan gw ini kurang pantes…. sori sekali lagi…. tapi untuk seseorang disana gw juga butuh dihargain…. kalo lo ngerasa diri lo manusia

pagi jahanam

January 20th, 2007 by buatmaru

tiba tiba terlintas buat gw untuk nginget dan nulis kisah2 yang pernah gw alamin dulu tapi biar ada dramtiknya gw tuangin lewat cerpan (not cerpen)… kata titi kamal biar megang banget (naon beul)

siapa tahu 1 detik atau 1 juta detik lagi gw dah ga bisa ingat lagi….

I. Pagi Jahanam

ini cerita dimana gw masih jadi seorang mahasiswa di unjat. Gw kos di daerah dekat kampus. kata dekat berarti cukup membuat gw keringetan dan sangat nikmat menyedot sebotol teh botol sampai terdengar bunyi ngorok dari dalam botol (itu kalo punya duit, kalo ga punya duit minum aer putih aja di kansas soale gratis) kalo jalan kaki ke kampus sebab harus menyebrang jalan raya, masuk jalan gang sekitar 200 m dimana orang2 yang berjalan didaerah situ bisa melihat anak-anak sd, smp, sma yang olahraga (kalo lo mujur ada yang cakep juga, tapi jangan lupa punten setiap kali ngelewatin penduduk setempat makanya terkenal juga ama gang seribu punten). setelah berada dipertigaan gw harus belok kiri dan mulai nanjak yang cukup terjal (kalau mau dibayangin mungkin setara ama gedung 7 lantai tingginya) setelah melewati kebon singkong (kadang ditanem bakau juga) dan jalan aspal lagi barulah sampai dikampus tempat gw hampir di DO.

kendati begitu kosan gw cukup nyaman buat beberapa temen gw baik penghuni maupun non penghuni (terbukti kalo mereka dah tidur ga bangun-bangun, akhirnya ga masuk kuliah lagi). selain menyimpan suara-suara dengkuran, kosan gw juga banyak menyimpan kata hati penghuni-penghuninya. seperti yang terjadi pada malam jahanam itu. jam 4 subuh gw (playboy gagal), Abi (playboy baru), Amang (playboy nyastra-gagal juga) dan (sebenarnya ni anak satu yang paling mujur nasibnya playboy melow) Eja masih melek untuk berdiskusi hal yang sangat serius. 4 cowok berkumpul dalam satu pembicaraan jam 4 subuh pula, apalagi sih kalau bukan ngobrolin wanita dimana kaum tersebut bisa di puja-puja atau sebalik dihina di forum tersebut.

“ya udah gini aja, sekarang kita nembak cewek bareng lewat sms,” usul gw

kalian pasti bingung kenapa tiba-tiba gw usul begitu. (Sabar dong kan ini lagi mau di ceritain)

Abi merupakan teman gw yang paling cukup dari segi materi dibanding kita bertiga. Wajahnya juga ga jelek-jelek amat kok. (amat : giliran jelek aja gw di bawa-bawa ; Sori mat udeh terima aje) Namun dia yang paling ngga pede kalo harus berhadapan ama cewe. Gw berani jamin satu seprei bisa basah semua kalau ngelap keringetnya yang keluar. Nah saat ini Abi lagi naksir sama adik kelas yang bernama Ina. Ina ini termasuk cewek yang ramah suka banget ama rnb. Saking ramahnya bisa-bisa bikin semua cowok ge-er. Rambut sepunggung dan blasteran betawi arabnya cukup membuat kakak-kakak kelasnya ingin tampil sebagai senior yang ideal. Cukup lama Abi memendam rasa tapi tidak bisa menyampaikannya. Akhirnya malam itu kita bertiga mancing-mancing biar dia punya keberanian buat nyatain perasaannya. Biasanya orang akan melakukan hal yang sama bila mereka merasa senasib. Makanya gw ngusulin kita semua nembak cewek bareng-bareng.

“anjiiirr, yang bener neh,” kata Abi spontan sambil ngelap keringet di jidadnya. Tuhkan apa gw bilang belum juga nembak udah keringetan setengah ember.

Kita bertiga langsung setuju. Mungkin karena sejak awal obrolan malam itu membahas tentang keberanian Abi didepan cewek.

“anjiirr, anjiiirrr, iya deh,” kata Abi. Kata terakhir cukup membuat kita bertiga kaget. Gw sendiri sebenarnya merasa kecut kalau harus menyatakan kata suka ke cewek.

“tapi bener-bener cewek yang lagi lo suka yagh,” kata gw

“setuju siapa takut,” kata Amang

mungkin di beberapa pikiran kalian tindakan gw dan teman-teman seperti mengadakan sebuah taruhan mengejar wanita. Kalau itu yang ada dibenak pikiran kalian, sangatlah keliru. Kalau mau jujur sebenarnya selain Abi, gw dan yang lainnya juga mengalami hal yang sama dengan Abi (konteks ini diluar Eja… sekali lagi gw tekenin dia satu-satunya yang mujur masalah percintaan. Tapi kalau soal duit sih sama-sama aja). Hanya saja masalah gw dan Amang tidak terlalu muncul ke permukaan.

“Abi udah pasti nembak Ina. Lo siapa Gi?” tanya Eja.

Oiya gw belum mengenalkan nama gw. Nama gw Sugi Pranoto. Temen-temen biasa manggil gw Ugi. Sori-sori aja kalo panggilan gw mirip-mirip Gie.

“Yah gw sih sebenarnya belum ada cewek yang gw suka banget. Tapi kalo cewek sering gw perhatiin ada. Itu tuh si Siska,” jawab gw sambil menyulut puntung djarum super yang tinggal setengah batang.

Sebenarnya jawaban gw nggak sepenuhnya bener dan nggak sepenuhnya bohong juga. Intinya gw emang naksir Siska.

“Nah lo sejak kapan lo suka doi. Kok kita-kita nggak tau?” tanya Abi penasaran.

“jadi begini Bi. Saat itu …bla bla bla… gitu Bi. Pokoknya gw suka banget liat dia maen basket. Gwkan paling suka kalau lihat cewek berkeringat,” terang gw yang di sambut dengan anggukan-anggukan anak

(sori gw sengaja mempercepat cerita gw tentang Siska. Soal biar ni cewek terkesan misterius dan yang pasti sih biar nggak terlalu panjang dan bertele-tele)

“Kalau gw sih Putu si gadis bali berlesung pipi. Matanya yang indah selalu bikin gw merasa berada di momentum gerhana saat dia melirik gw,” kata Amang penuh ekspresi

“ok deh sekarang tinggal gw. Kalau gw akan nembak….tiiiiiitt…,” kata Eja. (sumpah gw ga pengen tahu. Soalnya seperti yang dibilang di awal dia selalu mujur dalam percintaan. Jadi siapapun yang dia sebut nggak bakal ngaruh buat gw , Abi dan Amang. Dan jujur, sampai sekarang gw nggak tahu siapa cewek yang dia tembak malam itu)

Setelah semua target operasi ditentukan maka mulailah jempol-jempol kita menari diatas keypad hp masing-masing. (kalian jangan ngebayangkan hp kita-kita yang macem-macem deh. Sumpah hp kita segede-gede gaban dengan pulsa paling banter 10.000. itu juga kalau lagi punya duit)

massage send…

massage delivered…

pagi itu jam 4 subuh lewat 14 menit 4 orang cewek entah mendapat anugrah atau justru mendapat musibah karena sms gw cs. Dan kalau mereka merasa mendapat musibah maka pagi itu berhak diberi julukan pagi jahanam terlebih ini dilakukan saat awal UTS (Ujian Tengah Semester). Yang pasti ini adalah sebuah keberanian baru buat Abi, sebuah penembakan gaya baru buat Eja dan sebuah kejujuran buat gw dan Amang meski hanya terucap dalam hati. Memang hati tidak pernah berbohong. Dalam hati masing-masing kami mengucap gw suka sama lo.

mulai saat ini (? mungkin)

December 6th, 2006 by buatmaru

kata orang banyak menuliskan atau menyebutkan keluhan hanya akan mengundang keluhan lain…

sebaliknya banyak menuliskan (mensyukuri kali ya) anugrah yang diterima hari ini akan mengundang anugrah lain di esok hari.

gw coba ah…

syukur tadi pagi gw bangun kesiangan jadi telat ke kantor

syukur tadi abis makan di kantin bareng iren gw keujanan

syukur gw dapet makan gratis pas liputan

syukur gw kena macet total pulang liputan, jadi harus jalan kaki ke kantor.

syukur gw ga jadi ke antv karena jalanan macet

syukur gw masih ditemenin di kantor jadi pulang bisa nebeng

October 12th, 2006 by buatmaru

padahal gw sekedar ingin memuji bias pelangi

padahal gw cuma ingin sekedar berkompromi pada pagi

kenyataannya gw terasingkan, karena jujur pada keindahan…

terlalu banyak ketidaktahuan berubah jadi hakim pengadilan

sekali berkata, kelingkingpun terluka…

kelingkingpun berkata…AKU…

seperti segulung tai manusia yang dijauhi hanya karena dia tai

seperti batu yang dilontarkan karena sekedar ingin menyakiti

maka batu itu sebenarnya menangis…

(naon deui nyak. anjrit rek gaya nyieun puisi tapi lieur… nyak sakitu bae…) 

pren

September 25th, 2006 by buatmaru

Saat ini temanku yang paling setia adalah sebatang rokok

namun kini, dia hanya tinggal 3 hisapan lagi

lalu siapa lagi temanku yang paling setia nanti….